LISA masih terhitung sarjana muda. Ia baru mentas dari salah satu kampus ternama di Jawa Timur pada Agustus 2024. Saat ini, ia sedang menjalani magang menjadi reporter di salah satu media arus utama di Jakarta.
“Udah 10 bulan magang di sini, Februari sampai Desember ini terakhir,” ujarnya, saat dihubungi melalui Zoom Workspace, pada 21 Desember 2025.
Bekerja sebagai jurnalis sudah menjadi keinginannya sejak masa kuliah. Perempuan berusia 23 tahun itu mengaku pernah bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik di tingkat fakultas. Sejak itu, ia merasa tulis-menulis adalah passion-nya dan punya mimpi bekerja di salah satu media besar di Jakarta.
Jika dihitung hingga sekarang, Lisa telah menjalani magang selama empat kali. Posisi yang ia lamar kebanyakan adalah penulis konten media sosial. Itu semua ia lakoni demi mendapat sebanyak mungkin pengalaman. Sebab, ia berpikir bahwa bekal yang mumpuni adalah syarat utama lolos seleksi kerja.
“Punya gadget bagus juga nilai lebih. Karena, menurut gue, banyak perusahaan yang mandang banget device apa yang kita pakai,” sambungnya.
Jalannya menapaki karir juga tak bisa dibilang mulus. Dari daftar catatan yang ia simpan, beberapa lamarannya pernah ditolak. Beberapa yang lain bahkan tak mendapat balasan sama sekali.
Sebetulnya, ia pernah mendapatkan tawaran kerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) dari sebuah tempat les bahasa asing. Offering Letter atau Surat Penawaran sudah ia terima. Gajinya nyaris menyentuh Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta sekitar Rp5,3 juta. Namun, tawaran tersebut tak diambilnya. Justru, Lisa memilih mengejar mimpinya.
Waktu itu, masa magang Lisa di kantor yang sebelumnya hampir rampung. Ia lantas buru-buru mencari lowongan baru. Sambil menyelam minum air, ia kirim dua lamaran di sela-sela mengerjakan tugas magang. Yang satu, lamaran kerja sebagai penulis konten media sosial di tempat les bahasa. Sedangkan lainnya, magang sebagai reporter di kantor yang ia tempati sekarang.
Gayung bersambut, kata berjawab. Apa yang ia usahakan dibalas dengan kabar baik. Dua-duanya direspons dengan Offering Letter setelah melalui serangkaian proses seleksi.
“Gajinya memang nggak segede itu. Tapi, kantor gue yang sekarang is one of my dream company. Misalnya nggak gue terima sekarang, kapan lagi? Kapan lagi gue bisa masuk media yang segede ini?” tutur Lisa, yang terdengar begitu bersemangat.
“At least, usia gue masih segini. Masih bisa kejar passion. Urusan PKWTT atau karyawan tetap bisa urusan nanti. Kejar gaji UMR, nanti ajalah, mending kejar mimpi dulu.”
Berdampak ke Kehidupan Sosial
Lisa memang bukan dari golongan yang dituntut harus segera menafkahi keluarga selepas ijazah sarjananya berada di tangan. Ia mengaku bahkan masih mendapat uang saku dari orang tua.
Walau begitu, magangnya yang telah berlangsung 10 bulan bukan berisi “ketawa-ketawa” belaka. Demi magang di media yang ia impikan, ia harus rela putus dengan pacarnya.
“Tahu nggak sih, [pacar gue] menuntut komunikasi harus ‘A, B, C, D, E’. Sedangkan gue pas magang jadi reporter tuh lebih sibuk dibanding di tempat magang yang lama,” ungkapnya, sambil mengeluh.
Sejak magang di kantor tersebut, komunikasi Lisa dengan pacarnya memang jadi lebih renggang. Kirim pesan bisa seperlunya saja. Ia kadung disibukkan dengan kerjaan. Panggilan video menjelang tidur atau sleep call bahkan sudah tak sempat.
Mau bagaimana? Nyaris saban hari Lisa pulang malam. Tak jarang, pukul 21.00 ia baru sampai rumah. Itu pun, ketika pukul 22.00, Lisa sudah terbawa pulas gara-gara saking capeknya.
Bila melihat kontrak magangnya, jam kerja Lisa tertulis sembilan jam. Dari pukul 09.00 pagi sampai 18.00. Namun, ia merasa janggal bila pulang tepat pukul 18.00. Alias, lebih sering pulang molor.
“Kalau kerjaannya lagi banyak, atau topiknya lagi susah, biasanya paling setengah delapan [pulang], atau bisa sampai jam delapan gitu,” ucapnya.
Apalagi, Lisa harus bergelut dengan sesaknya angkutan publik TransJakarta. Tak jarang 1,5 jam bisa ia habiskan di dalam kendaraan plat kuning itu. Belum lagi kalau ada jadwal liputan, tiba di rumah bisa lebih larut lagi.
Satu waktu, ia pernah pukul 20.00 baru beres liputan di lapangan. Lalu, ia makan terlebih dahulu sampai pukul 21.00. Setelahnya, ia pulang naik bus dan sampai rumah pukul 22.00 lebih. Ia bergegas mandi dan segala macam sampai pukul 23.00. Malam itu juga, ia garap liputannya, pukul 24.00 lebih baru rampung. Ia pun baru bisa tidur.
Padahal, sekitar 08.00 pagi, Lisa mesti bangun lagi. Dan, berangkat kerja lagi. “Itu kan sudah gila namanya. Capek sih,” keluh Lisa.
Rutinitas magang yang ia jalani itu membuat pacarnya merasa kalau Lisa mulai susah dihubungi dan jarang memberi kabar. Lisa sebenarnya sadar mengenai itu: komunikasi dengan pacarnya memburuk. Hanya saja, Lisa merasa kalau pacarnya kurang memahami ketika ia cerita perkara kesehariannya.
Puncaknya, ia pernah seminggu tak bertukar kabar dan tak membalas chat pacarnya. Pesan-pesan dari kekasihnya sengaja Lisa diamkan. Baginya, magang jauh lebih penting. “Gue bodo amatin. Baru gue bales, udah. Gue minta putus,” ujarnya.
***
Setelah beberapa waktu di kantornya, Lisa mengamati bahwa beban kerja karyawan tetap di kantornya tak beda jauh dengannya sebagai anak magang. Dua artikel dan satu konten media sosial sudah jadi tanggungannya sehari-hari.
Bertambah satu tugas lagi, bila ada liputan, tapi jadwalnya tak pasti. Seingatnya, seminggu minimal satu sampai dua kali. Khusus konten media sosial, semua Lisa yang bikin. Mulai dari naskah, tampilan visual, sampai takarir.
End-to-end ia menyebutnya. Dari tahap awal hingga tahap akhir, Lisa semua yang membereskan.
Yang kentara beda, adalah fasilitas. Karyawan tetap bisa menikmati kerja menggunakan gawai yang disediakan kantor. Beberapa perangkat yang digunakan juga dikasih kantor, macam buat transkrip dan mengedit desain.
Sementara Lisa dan peserta magang lainnya mesti merogoh kocek pribadi. Kerja juga pake laptop sendiri.
Dengan beban dan jam kerja yang harus dilakoni, Lisa merasa upahnya teramat kecil. Pikirnya, itu tak sepadan. Angkanya nyaris sepertiga dari UMP Jakarta 2025, yaitu Rp1,7 juta.
Tanpa privilese dibantu orang tua, menurutnya, tidak akan cukup untuk menanggung biaya hidup di Jakarta.
“Yang ngomong bukan gue doang. Banyak anak magang juga merasakan hal yang sama. Bahkan editor gue juga kaget gaji gue cuma segitu,” tuturnya.
Lisa sangat berharap dirinya diangkat jadi karyawan tetap. Jam terbangnya selama magang pun bisa dibilang mumpuni: 10 bulan. Ia juga cukup yakin bisa memenuhi apa yang kantornya minta.
Realitanya, tawaran yang ditunggu-tunggu itu memang tidak kunjung datang. Alhasil, ia berencana istirahat terlebih dulu setelah kontraknya itu selesai.
“[Magang] kemarin tuh capek banget, kayak jam tidur gue berantakan dan lumayan stressfull lah. Jam kerja tuh kayak panjang banget, bisa begadang dan lain sebagainya. Jadi gue pengen rehat dulu,” jelas Lisa.
Kantor Lisa sebenarnya menawarkan perpanjangan kontrak, yang statusnya sebagai peserta magang lagi. Gajinya naik drastis memang, setara UMP Jakarta 2025, yaitu Rp5,3 juta. Namun, Lisa tetap enggan.
Ia merasa janggal bila harus magang lagi setelah sepuluh bulan yang ia tempuh. Lisa tetap memilih untuk hengkang.
“Cabut, gue udah fix cabut 31 Desember nanti,” tegas Lisa.
Sekadar Konversi SKS, Magang Pun Tak Jelas
Tanpa kontrak kerja, tanpa diupah, tugas pun tak jelas. Demikian yang Bayu (21) alami tatkala mengikuti program magang. Tak ada pilihan, ia menjalaninya lebih karena keterpaksaan, alih-alih persiapan memasuki dunia kerja atau mencari pengalaman atau alasan serupa lainnya.
Ia mengaku sebagai mahasiswa Jurusan Informatika di salah satu kampus di Surabaya. Di kota yang sama pula ia kini tengah menjalani magang. Kira-kira sudah jalan tiga bulan lebih. Bulan Januari 2026, magangnya bakal rampung.
Kampus Bayu menetapkan aturan wajib magang. Satu semester disisihkan khusus untuk program tersebut. Mahasiswa diberi pilihan: magang di semester lima atau di semester enam. Mau tak mau, ia harus memilih salah satu.
Jangka waktu paling singkat empat bulan. Program ini akan dikonversi menjadi 20 Satuan Kredit Semester (SKS) bagi mahasiswa yang menyelesaikan magang.
Secara berkelompok, Bayu dan dua orang kawannya memilih magang di semester lima. Di sebuah instansi yang sebenarnya kurang ia kehendaki. Pun demikian dengan pihak instansi tempatnya magang, tidak menerima mahasiswa Jurusan Informatika, sebab tidak ada tugas yang sesuai untuk mahasiswa dari bidang tersebut.
“Kebetulan ada proyek website yang butuh penyempurnaan. Karena itu sesuai dengan jurusan kami, setelah berunding, kami akhirnya diterima,” kata Bayu, saat ditemui projectarek.id.
Instansi tempat ia kini magang merupakan pilihan terakhir. Percobaannya melamar ke sana kemari tak membuahkan hasil. Bayu pertama-tama turut mendaftar program Magang Berdampak di sebuah startup yang berkantor di Jakarta. Sayangnya, ia gagal dalam seleksi administrasi. Proyek yang ia ajukan tak memenuhi standar perusahaan.
Permagangan yang Ribet
Ia mencoba mengirim lamaran ke salah satu kementerian, namun kuota penuh. Jawaban yang sama juga ia terima dari sebuah dinas setingkat provinsi di Jawa Timur.
Ia mencari peruntungan lagi ke dinas yang lain, Curriculum Vitae (CV), proposal magang, dan segala macam sudah siap, namun hasilnya tetap tak lebih baik. Gara-gara urusan perizinan, kesempatannya mendapat tempat magang harus gugur lagi.
“Jadi kan sebelum proposal diajukan ke pihak instansi itu harus mendapatkan izin dulu ke dekan. Nah, itu prosesnya agak lama. Karena lama, kuota magang akhirnya keburu diisi sama orang lain,” ujarnya.
Sudah wajib magang, harus sesuai dengan jurusan pula. Perkara mau magang di mana, itu urusan mahasiswa. Kampus tak ambil pusing. Sampai Bayu merasa ia benar-benar dilepas oleh kampusnya. Lelaki yang mulai berkuliah tahun 2023 itu hampir tak mendapat uluran tangan sama sekali sekadar untuk menjalankan magang.
Sekira H-3 minggu dimulainya magang, Bayu dan dua orang kawannya masih belum dapat tempat. Beruntung ada kenalan yang memberi arahan untuk menghubungi instansi tempatnya kini magang. Sebanyak 20 SKS akhirnya bisa ia amankan meski tak sesuai harapan.
“Waktu itu sudah benar-benar mentok. Istilahnya mau nggak mau harus magang buat memenuhi konversi SKS. Soalnya emang udah tuntutan dari kampus,” ungkapnya.
Bayu tak bercerita banyak. Seperti halnya magang yang dijalaninya, tak banyak pula yang bisa diharapkan. Ia lebih sering menganggur di instansi tempatnya menjalani internship.
Proyek yang sedari awal menjadi kesepakatan dan membuatnya diterima magang itu, dan satu-satunya tugas yang ia terima selama empat bulan, sudah beres ia kerjakan pada minggu kelima magang.
Mestinya tinggal menunggu persetujuan dari mentor, lalu dipublikasikan. Namun, hingga pertemuan kami sore itu, sekitar enam minggu pasca ia serahkan hasil kerjanya, masih abu-abu juga statusnya. Mentor tak kunjung merespon. Padahal, masa magangnya bakal rampung kurang dari sebulan lagi.
“Karena sudah tahu nganggur, [kami] datangnya di telat-telatin. Mau masuk jam sekian-sekian, nggak terlalu dipermasalahkan sama kantor,” katanya.
Kesepakatan antara kelompok Bayu sebagai pemagang dengan pihak instansi sebagai tempat magang memang sebatas kesepakatan lisan. Tak ada kontrak tertulis apapun. Akibatnya, hak dan kewajiban kedua belah pihak jadi rancu.
Kampus Bayu sebetulnya menganjurkan mahasiswa yang magang untuk menggunakan Implementation Arrangement atau Perjanjian Pelaksanaan Kerjasama, semacam perjanjian yang mengikat antara pihak kampus dengan mitra magang. Namun, hak dan kewajiban tetap absen di dalam pasal-pasalnya.
*Lisa dan Bayu bukan nama sebenarnya. Nama keduanya disamarkan demi melindungi keamanan narasumber, sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Pasal 7.